“Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari
Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggan dan keangkuhan. Ikhlaskanlah jihadmu
dan tujulah Allah dengan amalmu. Karena hari ini menentukan hari-hari yang akan
datang.” Demikian kata-kata Khalid bin Walid di tengah-tengah berkecamuknya
perang Yarmuk.
Kata ikhlas sudah begitu sering kita dengar dalam berbagai
kesempatan. Bagi kader dakwah, semestinya ikhlas tidak boleh lagi menjadi
sekadar retorika belaka, melainkan ia harus hadir dan ada dalam diri kita,
menyatu dalam pikiran, hati, bersenyawa dengan jiwa, seirama dengan detak
jantung dan tarikan nafas. Bersamanya kita memulai hari-hari, dengannya kita
bekerja, membangun ukhuwah dan menapaki jalan dakwah ini.
Sungguh perlu kita sadari bahwa hati seorang hamba
senantiasa dikepung dari berbagai penjuru oleh hawa nafsu, kepentingan sesaat,
ambisi duniawi, rasa malas, hasrat kemaksiatan dan gejolak ingin dipuji serta
disanjung. Kesemuanya ini mengintai kondisi lemah hati kita. Dan ketika kondisi
lemah dan lalai mereka dapatkan, dengan segera mereka menembus hati kita dan
menguasainya. Naudzubillah..
Karena itu saudaraku yang dicintai karena Allah, sudah
sepatutnya kita menyadari dengan sepenuh hati, bahwa sejak kali pertama kita
bergabung dengan dakwah ini, ikhlas telah menjadi tuntutan dan kewajiban yang
mengikat diri kita sampai Allah menampakkan kemenangan bagi dakwah ini atau
kita syahid dalam menegaknya dan membelanya.
Apakah kita telah menjadikan ikhlas sebagai sesuatu yang
menyatu dalam diri kita, melebur, menjasad, mendarah daging, menjadi bagian
yang tak terpisahkan dalam diri kita?
Apakah ikhlas telah merasuk dalam pikiran kita sehingga
membuat kita menjadi produktif sekaligus kreatif dalam mengeluarkan gagasan
untuk membangun dakwah ini tanpa tendensi apapun selain kepada Allah Swt?
Apakah ikhlas telah melebur kedalam hati kita sehingga
menjadikan kita mampu memandang segala permasalahan dakwah ini secara jernih,
dan menjadikan kita mampu membangun ukhuwah, ukhuwah yang sebenarnya bukan
sekedar hiasan kata apalagi untuk saluran hasrat dan nafsu sesaat?
Apakah ikhlas telah menjadi jiwa dalam setiap amal yang kita
lakukan, sehingga menjadikan kita rela mengemban amanah serta melaksanakan
apapun tugas-tugas dan kebijakan dakwah dengan penuh tanggung jawab, tanpa rasa
berat dan tidak berharap balasan atas semua itu kecuali hanyalah dari Allah
Swt?
Mari kita kembali pada ashalah (keaslian) dakwah ini,
sebenarnya apa motivasi awal kita memilih hidup di jalan ini? Apa yang kita
inginkan ketika kita bergabung dengan dakwah ini? Izinkan saya untuk
menjawabnya:
Motivasi awal dan keinginan kita adalah meraih ridho Allah,
untuk itu kita akan ikut berputar bersama roda dakwah ini kemanapun ia
berputar, tidak akan bergeser darinya karena kita yakin kebaikan itu ada
bersama dengan dakwah dan kehinaan dunia akhirat bila memisahkan diri darinya.
Semua itu kita lakukan sebagai sarana atau jalan untuk meraih keridhaan Allah
Swt, lain tidak. Bagi kita, ridha Allah adalah imbalan terbesar dan termahal,
karena itu kita sudah merasa cukup dengan imbalan itu.
Nabi Muhammad Saw pernah berpesan,” Jagalah Allah, niscaya
Dia akan menjagamu”. Ungkapan hadits ini mengandung makna bahwa Allah berjanji
akan menjaga dan melindungi kita dari segala macam gangguan, godaan dan bujuk
rayu syetan entah itu berupa jin maupun manusia, selama kita menjaga keikhlasan
hati hanya kepada Allah.
Wahai saudaraku..
Marilah kita jadikan ikhlas sebagai titik tolak segala
perbuatan kita, gerak-gerik tingkah laku, sikap, kata-kata, dan perbuatan kita,
menjadi akar dan pondasi visi dan misi kehidupan kita. Mari kita letakkan
ikhlas di lubuk hati yang paling dalam hingga ia menyertai segala niat dan
lintasan hati yang ada di benak kita. Semoga Allah Swt senantiasa menjaga kita
semua. Amiin ya.. robbal ’alamin.


